Kesenangan Liar


lupakan raut buruk,
untuk setapak yang belum dilalui,
dia tidak menangis,
untuk jalan-jalan buram,
karena mungkin janji-janji kritis,
akan mati meski terus ditimang,

disebelah lampu minyak tua,
si gelap membara berkobar-kobar,
membakar siapa saja yang tak bergerak,
dan saat si tua mengering,
bulan menggrimis sinar putih lembut,
memadamkan kobaran yang membara,
dia pun tersenyum dan menari,
merasakan tetesan mesra,

tanah berdebu melekuk-lekuk,
menggurat langkah dia yang menari,
dia terdiam sejenak,
menyapa sunyi yang kesepian,
dan mereka bernyanyi bersama,
menyairkan sajak pagi,
bagi siapa yang masih terjaga,
 di akhir kedipan matanya yang sayu,
ada sebuah bangga dikelopaknya,
untuk tidak mengair mata,
keterpurukan yang terawat,
tidak seberhaga kesenangan yang tumbuh liar,

pahlawan kecil itu tersenyum,
setelah memerdekakan kesedihan.
sepuluh-sebelas-dua belas.

0 komentar:

Posting Komentar